Litaqmandar.com Majene,– Tanah Mandar dikenal memiliki beragam kekayaan kuliner tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah Jepa, makanan khas masyarakat Mandar yang sejak dahulu menjadi makanan pokok, khususnya bagi masyarakat Desa Palipi Soreang, Kabupaten Majene. Hingga saat ini, Jepa masih dipertahankan sebagai bagian dari tradisi dan identitas kuliner masyarakat setempat. Jumat, 30/10/2026
Samania, warga Desa Palipi Soreang, mengatakan bahwa Jepa merupakan makanan tradisional yang bahan utamanya berasal dari ubi kayu atau singkong. Pada masa dahulu, Jepa menjadi makanan pokok pengganti nasi karena ubi kayu lebih mudah ditemukan dan dibudidayakan oleh masyarakat. Selain itu, Jepa juga memiliki daya tahan yang cukup baik, bahkan dapat bertahan antara satu hingga tiga hari sehingga cocok dijadikan persediaan makanan keluarga.
Menurut Samania, sejak dahulu hingga sekarang mayoritas masyarakat Desa Palipi Soreang menggantungkan kehidupan sebagai petani dan nelayan. Kondisi geografis desa yang diapit oleh kawasan pegunungan dan laut menjadikan masyarakat memiliki tradisi kehidupan yang erat dengan aktivitas bertani, berkebun, serta melaut.
Kondisi tersebut membuat masyarakat pada masa lampau lebih banyak mengandalkan hasil pertanian dan perkebunan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Ubi kayu menjadi salah satu tanaman utama yang dibudidayakan karena mudah ditemukan dan dapat diolah menjadi Jepa. Bahkan, pada masa itu, hanya sebagian kecil masyarakat, khususnya kalangan berada, yang menjadikan nasi sebagai makanan pokok sehari-hari.
Namun, seiring perkembangan zaman, keberadaan Jepa mulai menghadapi tantangan. Makanan tradisional yang dahulu menjadi konsumsi utama masyarakat kini semakin jarang ditemukan. Berkurangnya petani yang menanam ubi kayu serta semakin mudahnya masyarakat memperoleh beras menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Jepa perlahan kehilangan tempat dalam kebiasaan makan sehari-hari.
Meski demikian, Samania yang akrab disapa Indo Ute tetap berupaya mempertahankan warisan kuliner leluhur tersebut. Ia menjadikan pembuatan Jepa sebagai mata pencaharian dengan memproduksinya untuk dijual kepada masyarakat setempat. Menariknya, dalam proses pembuatan, Indo Ute’ masih mempertahankan cara-cara tradisional, mulai dari penggunaan peralatan sederhana hingga proses memasak menggunakan kayu bakar.
Jepa sendiri memiliki beberapa jenis dengan cita rasa yang berbeda. Di antaranya Jepa berbahan dasar ubi kayu yang dicampur dengan kelapa, serta Jepa yang dibuat dari ubi kayu sebagai bahan utama tanpa campuran kelapa. Keberagaman olahan ini menjadi salah satu kekayaan kuliner tradisional Mandar yang memiliki cita rasa khas dan menyimpan nilai sejarah dalam kehidupan masyarakat.
Kisah Indo Ute’ menjadi pengingat bahwa melestarikan budaya tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mempertahankan resep, proses pembuatan, dan memperkenalkan makanan tradisional kepada generasi muda merupakan langkah nyata menjaga warisan leluhur. Mari bersama-sama melestarikan dan mempertahankan Jepa sebagai salah satu kekayaan kuliner Tanah Mandar agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.


