Litaqmandar.com Majene, – Upaya menelusuri jejak sejarah dan peninggalan nenek moyang kembali dilakukan Harun, penggiat budaya Desa Palipi Soreang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Bersama teman-teman dari Daya Warga dan Daya Desa Palipi Soreang, ia melakukan penjelajahan untuk menemukan serta menggali kembali jejak sejarah yang masih tersimpan di wilayah tersebut. Kamis, 29 /10/2026
Salah satu situs yang menjadi perhatian dalam penelusuran kali ini adalah Situs Pepattoang, sebuah lokasi yang berada di atas gunung di Desa Palipi Soreang. Situs ini menyimpan cerita turun-temurun yang menarik untuk ditelusuri, terutama mengenai dugaan fungsinya pada masa lampau sebagai benteng pengintaian untuk memantau kedatangan musuh dari arah laut.
Harun bersama rombongan mengunjungi lokasi tersebut untuk melihat langsung kondisi situs yang diyakini memiliki nilai sejarah bagi masyarakat setempat. Secara geografis, Situs Pepattoang berada di kawasan perbukitan Desa Palipi Soreang yang berbatasan dengan Lingkungan Mangge dan Kalasa.
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, Pepattoang bukan sekadar tempat yang memiliki posisi strategis untuk mengamati wilayah laut. Dalam versi lain, lokasi ini juga disebut-sebut sebagai salah satu kawasan permukiman tertua yang pernah dihuni oleh masyarakat Palipi Soreang serta warga dari wilayah Mangge dan Kalasa.
Dugaan tersebut semakin menarik perhatian karena di sekitar Situs Pepattoang ditemukan kompleks makam tua. Keberadaan makam-makam itu menjadi salah satu petunjuk yang mendorong masyarakat untuk menghubungkan kawasan tersebut dengan kehidupan masyarakat pada masa lampau. Meski demikian, hubungan antara kompleks makam dan fungsi situs sebagai permukiman maupun benteng pengintaian masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Posisi Pepattoang yang berada di atas gunung juga memunculkan dugaan bahwa lokasi tersebut dahulu memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat. Jika benar digunakan sebagai tempat pengintaian, kawasan ini kemungkinan dimanfaatkan untuk mengamati pergerakan dari arah laut sekaligus membantu masyarakat mengantisipasi ancaman yang datang. Namun, dugaan tersebut perlu diperkuat melalui kajian sejarah, arkeologi, serta penelusuran sumber-sumber lokal yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi Harun dan rekan-rekannya, kegiatan penelusuran ini bukan sekadar perjalanan menjelajahi kawasan bersejarah, melainkan juga bentuk kepedulian terhadap warisan leluhur yang berpotensi menyimpan kisah penting tentang kehidupan masyarakat Mandar pada masa lalu. Penelusuran langsung di lapangan diharapkan dapat membuka ruang diskusi dengan tokoh masyarakat, pemangku adat, serta warga yang masih menyimpan cerita turun-temurun mengenai asal-usul Pepattoang.
Keberadaan Situs Pepattoang menjadi pengingat bahwa jejak sejarah di Desa Palipi Soreang perlu terus digali, didokumentasikan, dan dilestarikan. Harun bersama komunitasnya berharap penelusuran tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengungkap sejarah situs secara lebih mendalam, sekaligus mendorong perhatian berbagai pihak agar peninggalan leluhur di Palipi Soreang tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.


