Budaya  

Goa Udzung Palipi Soreang, Jejak Sejarah Perjuangan di Tanah Mandar yang Menyimpan Peninggalan Masa Penjajahan

Litaqmandar.com Majene – Desa Palipi Soreang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, sejak dahulu dikenal sebagai salah satu wilayah yang menyimpan jejak sejarah perjuangan di Tanah Mandar. Salah satu situs bersejarah yang menjadi perhatian masyarakat, khususnya para penggiat budaya dan pemerhati sejarah, adalah Goa Udzung, yang diyakini memiliki keterkaitan dengan perjuangan masyarakat Mandar pada masa penjajahan. Sabtu, 24/10/2026

Goa Udzung bukan sekadar bentang alam yang tersembunyi di wilayah Desa Palipi Soreang. Situs ini menyimpan kisah historis tentang perjuangan para pejuang di Kabupaten Majene. Berdasarkan penuturan yang berkembang di masyarakat setempat, goa tersebut pernah dimanfaatkan sebagai tempat berkumpulnya para pejuang sekaligus lokasi penyimpanan persenjataan yang dikirim dari Tanah Jawa melalui jalur laut.

Setelah para pejuang beserta perlengkapan persenjataan tiba di Tanah Mandar, barang-barang tersebut dikumpulkan dan disimpan di dalam goa. Persenjataan itu kemudian dimasukkan ke dalam peti atau lemari sebelum dibawa menuju wilayah Pamboang. Proses pemindahan tersebut disebut dilakukan melalui jalur perkampungan Simbang yang terhubung hingga ke wilayah perkotaan Majene.

Baca Juga:   PEMDA Kabupaten Majene Rayakan Hari Lahir Pancasila 2025: Meneguhkan Nilai-nilai Kebangsaan dan Membangun Majene yang Lebih Baik

Dalam proses pengangkutannya, persenjataan dan perlengkapan tersebut dibawa menggunakan kendaraan tradisional berupa bendi atau dokar. Kisah ini menggambarkan bagaimana jalur darat dan laut diduga memiliki peran penting dalam mendukung pergerakan para pejuang pada masa itu. Meski demikian, kisah mengenai fungsi Goa Udzung tersebut masih perlu ditelusuri lebih lanjut melalui penelitian sejarah dan penelusuran sumber-sumber pendukung.

Keberadaan peninggalan di dalam Goa Udzung juga menjadi bagian menarik dari cerita sejarah yang diwariskan masyarakat setempat. Menurut salah seorang warga Desa Palipi Soreang yang pernah memasuki goa tersebut, masih terdapat benda-benda yang diyakini sebagai bekas peninggalan masa lalu, di antaranya kasur batu dan kursi batu berukuran besar. Keberadaan benda-benda tersebut menambah daya tarik goa sebagai situs yang patut mendapat perhatian dan kajian lebih mendalam.

Baca Juga:   Bupati Majene Resmi Luncurkan Kick Off Integrasi Layanan Primer (ILP)

Dari sisi bentuk fisik, Goa Udzung memiliki mulut goa yang relatif kecil. Lebarnya diperkirakan sekitar 1,5 meter, sedangkan tinggi bagian bibir goa berkisar antara 80 hingga 100 sentimeter. Ukuran tersebut membuat orang yang hendak masuk harus menyesuaikan posisi tubuhnya. Kondisi pintu masuk yang sempit juga dinilai berpotensi mendukung fungsi goa sebagai tempat berlindung atau persembunyian, meskipun fungsi historisnya perlu dipastikan melalui kajian lebih lanjut.

Secara geografis, Goa Udzung berada di bagian ujung selatan wilayah Desa Palipi Soreang, berbatasan dengan Kelurahan Rangas, Kabupaten Majene. Letaknya menjadikan situs ini sebagai salah satu potensi sejarah dan budaya lokal yang menarik untuk ditelusuri. Apabila didukung dengan pendataan, penelitian, serta dokumentasi yang memadai, Goa Udzung dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda tentang perjalanan sejarah daerahnya sendiri.

Baca Juga:   IJS Majene Hadir Tak Hanya Lewat Berita, tapi juga Aksi Nyata

Keberadaan Goa Udzung menjadi pengingat bahwa jejak perjuangan di Tanah Mandar tidak hanya tersimpan dalam cerita lisan, tetapi juga diduga berkaitan dengan situs-situs bersejarah yang masih dapat dijumpai hingga saat ini. Karena itu, diperlukan perhatian dari pemerintah daerah, pemerhati sejarah, komunitas budaya, dan masyarakat untuk bersama-sama menelusuri, mendokumentasikan, serta menjaga kelestarian situs tersebut agar kisah sejarah Goa Udzung di Desa Palipi Soreang tidak hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan