Litaqmandar.com Majene, – Terlihat tua, tetapi tetap artistik. Itulah kesan pertama ketika melihat bangunan Museum Mandar Majene. Nuansa arsitektur kolonial begitu kental melekat pada bangunan bersejarah ini. Bukan tanpa alasan, gedung tersebut memang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda beberapa dekade sebelum Indonesia merdeka dan pada awalnya difungsikan sebagai rumah sakit. Berdiri di atas bukit, tepatnya di Jalan Raden Soeradi, Kelurahan Pangali-Ali, Kecamatan Banggae, museum ini menawarkan perpaduan menarik antara nilai sejarah, arsitektur tempo dulu, dan panorama alam Teluk Majene. Dari lokasi tersebut, pengunjung dapat menikmati pemandangan laut yang indah dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang menghadirkan suasana sejuk dan menenangkan.
Memasuki bagian dalam museum, pengunjung akan disambut beragam koleksi peninggalan sejarah dan kebudayaan Mandar yang ditata dalam beberapa ruangan. Di ruangan pertama, terdapat pakaian pengantin Mara’dia (raja) dan kalangan bangsawan adat yang dikenal dengan sebutan Topia. Koleksi tersebut memberikan gambaran bahwa pada masa kerajaan, penggunaan pakaian adat dalam prosesi pernikahan tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan mengikuti kedudukan dan status sosial seseorang. Di ruangan yang sama, pengunjung juga dapat melihat berbagai alat musik tradisional Mandar, seperti ganrang, sattung, dan kanjilo, serta permainan tradisional, di antaranya gasing dan pakkaracangang. Rabu, 4/11/2026
Beranjak ke sayap kiri bangunan, pengunjung akan menemukan berbagai informasi mengenai sejarah kerajaan-kerajaan di wilayah Mandar, khususnya struktur kerajaan Pamboang, Sendana, dan Banggae. Ruangan ini juga menyimpan silsilah raja-raja Balanipa Mandar, mulai dari raja pertama, I Manyambungi yang dikenal dengan gelar Todzilaling, hingga raja ke-53, I Puang Monda’. Selain itu, terdapat peta persebaran situs cagar budaya yang memperlihatkan lokasi berbagai peninggalan sejarah di wilayah Kabupaten Majene. Deretan foto para Bupati Majene, Ketua DPRD Majene, serta Gubernur Sulawesi dari masa ke masa turut menghiasi dinding ruangan, menjadi dokumentasi perjalanan pemerintahan dari generasi ke generasi.
Di bagian lorong museum, pengunjung juga dapat menjumpai ruangan yang menyimpan replika tiga panji kebesaran kerajaan Mandar. Ketiganya memiliki identitas dan sejarah tersendiri, yakni I Macan dari Kerajaan Banggae, I Naga dari Kerajaan Pamboang, serta Cakkuriri dari Kerajaan Sendana. Koleksi tersebut menjadi salah satu bukti kekayaan simbol dan identitas kerajaan-kerajaan Mandar pada masa lampau. Tidak jauh dari ruangan tersebut, terdapat tong besar yang dahulu menjadi bagian dari fasilitas sterilisasi peralatan medis ketika gedung ini masih difungsikan sebagai rumah sakit pada zaman kolonial.
Suasana masa lalu semakin terasa ketika memasuki ruangan di ujung lorong. Sebuah lampu operasi berukuran besar masih menggantung di bagian tengah ruangan, mengingatkan pengunjung pada fungsi awal bangunan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan. Di sepanjang dinding terpajang foto-foto hitam putih dari rentang tahun 1926 hingga 1935 yang menggambarkan aktivitas dan suasana rumah sakit pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Dokumentasi tersebut menjadi saksi perjalanan panjang bangunan ini, dari fasilitas kesehatan hingga akhirnya dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan dan pelestarian warisan sejarah serta budaya Mandar.
Tidak hanya menyimpan koleksi sejarah kerajaan dan rumah sakit, museum ini juga memiliki sejumlah ruangan lain yang menyimpan benda-benda unik dan menarik untuk diamati. Di antaranya terdapat patung batu berbentuk kepala manusia, tiga benda menyerupai cincin dengan ukuran sangat besar, serta wadah jenazah atau sarkofagus yang terbuat dari kayu. Berbagai koleksi tersebut memperlihatkan kekayaan peninggalan masa lalu sekaligus memberikan gambaran tentang kehidupan, kepercayaan, dan tradisi masyarakat pada zamannya.
Beralih ke sayap kanan gedung, pengunjung akan diajak mengenal lebih dekat kekayaan busana tradisional Mandar. Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah ragam corak atau sure’ pada sarung Mandar yang ternyata memiliki fungsi dan peruntukan berdasarkan kedudukan sosial pemakainya. Terdapat sure’ mara’dia yang diperuntukkan bagi kalangan raja serta sure’ padada untuk kalangan bangsawan. Selain itu, museum ini juga memperkenalkan perbedaan busana perempuan berdasarkan status perkawinan. Baju boko dikenakan oleh perempuan yang telah bersuami, sedangkan baju pokko diperuntukkan bagi perempuan yang belum menikah atau gadis. Dari koleksi tersebut, pengunjung dapat memahami bahwa pakaian tradisional Mandar pada masa lalu bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga menjadi penanda identitas sosial dan adat istiadat.
Di bagian akhir kunjungan, pengunjung akan menemukan berbagai miniatur rumah tradisional Mandar, mulai dari rumah Mara’dia, rumah bangsawan, hingga rumah masyarakat biasa. Beragam perlengkapan kehidupan sehari-hari masyarakat Mandar juga dipamerkan secara lengkap, seperti alat tenun, perkakas dapur, peralatan pertanian dan nelayan, senjata tradisional, perlengkapan upacara adat, hingga berbagai jenis perhiasan. Bahkan, di salah satu sudut ruangan terdapat koleksi ular sawah berukuran besar yang telah diawetkan dengan panjang sekitar delapan meter. Seluruh koleksi tersebut menjadikan Museum Mandar Majene bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda kuno, melainkan ruang pembelajaran untuk mengenal sejarah, adat istiadat, dan identitas masyarakat Mandar. Mengunjungi museum ini menjadi kesempatan berharga untuk menyelami perjalanan masa lalu sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya daerah yang patut dijaga dan dilestarikan.


