Budaya  

Harun Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi Penjemuran Lipa’ Sa’be di Desa Palipi Soreang

Litaqmandar.com Majene,– Kekayaan budaya masyarakat Mandar tidak hanya terlihat dari pakaian adat dan berbagai kerajinan tradisional, tetapi juga dari kebiasaan sederhana yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah cara penjemuran Lipa’ Sa’be atau sarung sutra Mandar yang dahulu menjadi pemandangan sehari-hari di Desa Palipi Soreang, Kabupaten Majene. Namun, tradisi tersebut kini mulai langka ditemukan seiring perubahan pola kehidupan masyarakat. Sabtu, 31/10/2026

Harun, penggiat budaya Desa Palipi Soreang, mengungkapkan bahwa dahulu masyarakat memiliki cara tersendiri dalam menjemur Lipa’ Sa’be setelah dicuci. Kebiasaan ini bukan sekadar aktivitas rumah tangga, melainkan bagian dari pengetahuan tradisional orang tua terdahulu dalam merawat kain sutra agar tetap terjaga kualitas dan keindahannya.

Baca Juga:   SMKN 7 Majene Gelar Kegiatan Pendidikan Karakter dan Penerimaan Tamu Ambalan Tahun 2025

Menurut Harun, ada beberapa faktor yang menyebabkan kebiasaan tersebut mulai ditinggalkan. Salah satunya adalah semakin langkanya Lipa’ Sa’be berbahan sutra asli karena harganya di pasaran semakin mahal. Kondisi ini membuat masyarakat tidak lagi banyak menggunakan kain sutra asli dalam kehidupan sehari-hari seperti generasi sebelumnya.

Selain itu, pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai cara mencuci dan menjemur kain sutra juga mulai berkurang. Padahal, kain sutra membutuhkan perlakuan khusus agar serat kain tetap terjaga dan tidak mudah mengalami kerusakan. Pengetahuan tentang perawatan Lipa’ Sa’be yang dahulu diwariskan secara langsung oleh orang tua kini semakin jarang dipraktikkan.

Baca Juga:   Bupati Majene Dorong Wisata Mangrove Dato Jadi Destinasi Unggulan Baru Sulawesi Barat

Faktor lainnya adalah perubahan bentuk bangunan rumah masyarakat. Dahulu, sebagian besar rumah di Desa Palipi Soreang merupakan rumah kayu panggung yang memiliki kolong atau bagian bawah rumah. Area tersebut biasanya dimanfaatkan sebagai tempat menjemur Lipa’ Sa’be dengan cara menggantungnya menggunakan bambu.

Dalam praktik tradisional tersebut, bambu yang digunakan sebagai tempat menggantung sarung diberi tambahan beban pada kedua ujungnya. Masyarakat biasanya menggunakan buah kelapa untuk menjaga posisi bambu tetap kuat dan seimbang. Ada pula yang menggunakan kayu atau alat tradisional yang dikenal dalam bahasa Mandar sebagai Pelambu Issung, yakni kayu penumbuk lesung, sebagai pemberat.

Baca Juga:   Pulau Idaman Memiliki Potensi Wisata Sulawesi Barat

Namun, seiring perkembangan zaman, rumah-rumah panggung berbahan kayu mulai banyak beralih menjadi bangunan permanen berbahan semen dan batu bata. Perubahan bentuk rumah tersebut turut memengaruhi ruang dan kebiasaan masyarakat dalam melakukan penjemuran Lipa’ Sa’be dengan cara tradisional.

Harun menambahkan bahwa perubahan zaman seharusnya tidak membuat generasi muda melupakan nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhur. Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda Desa Palipi Soreang, untuk kembali membangun kesadaran dalam memahami konsep, pengetahuan, serta nilai kebudayaan lokal agar tradisi yang menjadi identitas masyarakat tetap terjaga dan tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan