Wisata  

Wakil Bupati Andi Rita Pimpin FGD Penataan Wisata Mangrove Tamo, Majene Siapkan Destinasi Ekowisata Berkelanjutan

Litaqmandar.com Majene, – Pemerintah Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, terus berupaya mengembangkan potensi pariwisata daerah melalui penataan Kawasan Wisata Mangrove Tamo yang terletak di Lingkungan Tamo, Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene. Kamis, 5/11/2026

Upaya tersebut dibahas melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) atau Diskusi Kelompok Terarah yang dipimpin langsung Wakil Bupati Majene, Hj. Andi Rita Mariani, di Ruang Rapat Wakil Bupati Majene. Pertemuan ini secara khusus membahas proposal penataan kawasan wisata mangrove sebagai salah satu potensi unggulan pariwisata alam dan bahari di Kabupaten Majene.

Dalam arahannya, Wakil Bupati Majene Hj. Andi Rita Mariani menekankan bahwa pengembangan kawasan wisata harus diawali dengan perencanaan yang matang dan terintegrasi. Menurutnya, penataan kawasan tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus memperhatikan aspek legalitas dan kesiapan lahan, kesesuaian tata ruang, regulasi teknis, serta koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Baca Juga:   Wakil Bupati Majene Pimpin Apel Gabungan, Tekankan Peningkatan Kesadaran Pajak dan Kepedulian Lingkungan

Kawasan Mangrove Tamo yang memiliki luas kurang lebih 15,97 hektare tersebut diarahkan menjadi destinasi wisata alam dan bahari yang memiliki daya tarik tersendiri. Namun, pengembangannya tetap harus mengedepankan prinsip kelestarian lingkungan, khususnya perlindungan ekosistem mangrove dan kawasan pesisir yang menjadi bagian penting dari keseimbangan alam.

Wakil Bupati juga menegaskan perlunya penyusunan tahapan perencanaan dan jadwal pelaksanaan yang jelas serta terukur. Koordinasi antar-OPD teknis perlu diperkuat, termasuk pelibatan aktif masyarakat sekitar agar pengembangan kawasan wisata tersebut tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi juga mampu memberikan manfaat langsung bagi warga setempat. Perencanaan juga harus mempertimbangkan karakteristik maritim pesisir, termasuk pengaruh angin barat dan angin timur, sistem pengelolaan sampah dan limbah, serta penentuan pangsa pasar wisata, baik regional maupun domestik.

Baca Juga:   Wakil Bupati Majene Pimpin Rapat Koordinasi Perubahan Perbup 40/2019 untuk Penguatan Struktur Bapenda

Dari sisi infrastruktur, penataan kawasan Mangrove Tamo diharapkan didukung fasilitas yang terintegrasi, mulai dari pembangunan jalan titian atau boardwalk, jaringan air bersih, fasilitas sanitasi, sarana mitigasi bencana, dermaga ekowisata, pusat informasi wisata, hingga ruang usaha bagi pelaku UMKM. Seluruh fasilitas tersebut perlu direncanakan berdasarkan kebutuhan kawasan serta memperhatikan ketentuan dan regulasi yang berlaku.

Melalui pengembangan kawasan ini, Pemerintah Kabupaten Majene berharap Mangrove Tamo dapat menjadi destinasi wisata baru yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, membuka peluang usaha, memperluas pemasaran produk UMKM lokal, serta mendorong peningkatan pendapatan masyarakat. Untuk mendukung keberlanjutan pengelolaan, diperlukan penguatan kelembagaan berbasis masyarakat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), penyusunan standar operasional prosedur (SOP), serta penerapan tata kelola kawasan yang transparan dan bertanggung jawab.

Baca Juga:   Pemkab Majene Perkuat Komitmen Kebersihan, Bahas Pengelolaan Sampah 2026 dan Rencana Anggaran 2027

Penataan Kawasan Wisata Mangrove Tamo diharapkan menjadi langkah strategis Pemerintah Kabupaten Majene dalam memperkuat sektor pariwisata daerah sekaligus mengoptimalkan potensi alam pesisir. Dengan perencanaan yang terarah, dukungan lintas sektor, dan keterlibatan masyarakat, kawasan seluas 15,97 hektare ini diharapkan berkembang menjadi destinasi ekowisata yang berdaya saing, berkelanjutan, serta mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian ekosistem mangrove.

Tinggalkan Balasan