Budayawan Mandar asal Majene, Drs. Darmansyah, mengungkapkan bahwa dalam catatan sejarah, Majene merupakan bagian penting dari wilayah Mandar yang dahulu terdiri atas sejumlah kerajaan dengan pengaruh besar dalam perkembangan pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan di kawasan Sulawesi.
Salah satu kerajaan yang memiliki peran penting adalah Kerajaan Banggae. Kerajaan ini menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Mandar, khususnya dalam membangun tatanan pemerintahan, aktivitas perdagangan, serta kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat. Menurut Darmansyah, posisi Majene yang berada di kawasan pesisir menjadikannya sebagai salah satu daerah yang memiliki tradisi kemaritiman kuat.
“Sejak dahulu, masyarakat Mandar dikenal sebagai pelaut tangguh yang memiliki keberanian dan kemampuan dalam mengarungi lautan. Mereka tidak hanya berlayar di sekitar wilayah Sulawesi, tetapi juga menjalin hubungan perdagangan dengan berbagai daerah di Nusantara, seperti Kalimantan, Jawa, dan Maluku,” jelas Darmansyah saat ditemui di kediamannya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tradisi pelayaran masyarakat Mandar melahirkan berbagai jenis perahu tradisional, di antaranya Olang, Messa, dan Pakur, yang menjadi bagian dari perkembangan teknologi perahu masyarakat pesisir. Tradisi pembuatan dan penggunaan perahu tersebut turut mewarnai perjalanan sejarah kemaritiman Mandar hingga berkembangnya perahu Sandeq yang kini dikenal luas sebagai salah satu simbol identitas dan kejayaan maritim masyarakat Mandar.
Menurutnya, kemampuan pelaut Mandar pada masa lampau bahkan telah menjangkau wilayah pelayaran yang sangat luas. Jalur pelayaran mereka tidak hanya terbatas di perairan Nusantara, tetapi juga mencapai kawasan Malaka, Singapura, Semenanjung Sabah hingga Filipina. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Mandar sejak dahulu telah memiliki jaringan pergaulan, perdagangan, dan pelayaran lintas wilayah yang cukup luas.
Darmansyah yang juga pernah menjabat sebagai Ketua DPRD tersebut menambahkan, perjalanan sejarah Majene semakin berkembang pada masa kolonial Belanda. Saat itu, Majene tumbuh sebagai salah satu pusat administrasi dan perdagangan di pesisir barat Sulawesi. Setelah Indonesia merdeka, Majene terus mengalami perkembangan hingga menjadi bagian penting dari Provinsi Sulawesi Barat yang resmi terbentuk pada tahun 2004.
Selain memiliki sejarah kemaritiman yang kuat, Majene juga dikenal sebagai daerah yang kaya akan warisan budaya Mandar. Berbagai tradisi adat, kesenian, musik tradisional, hingga kerajinan tenun Lipa’ Sa’be masih dipertahankan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kekayaan budaya tersebut menjadi identitas masyarakat sekaligus bukti perjalanan panjang peradaban Mandar yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Hingga saat ini, Majene terus berkembang sebagai pusat pendidikan, kebudayaan, dan pembangunan di Sulawesi Barat. Namun, yang tidak boleh dilupakan adalah jati diri Majene sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dalam peradaban dan kemaritiman Mandar. Para pelaut Mandar dahulu sudah dikenal hingga Malaka, Singapura, kawasan Semenanjung Sabah, bahkan Filipina,” tutur Darmansyah.
Ia berharap sejarah dan warisan budaya Mandar terus mendapat perhatian, terutama dari generasi muda dan pemerintah daerah. Menurutnya, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan identitas dan kekayaan daerah yang harus dijaga, dipelajari, serta diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Dengan jejak kerajaan, tradisi pelayaran, perahu tradisional, seni budaya, dan jaringan perdagangan masa lampau, Majene memiliki kekayaan sejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban masyarakat Mandar. Potensi tersebut sekaligus menjadi modal budaya untuk memperkuat identitas daerah dan mengembangkan wisata sejarah serta budaya di Kabupaten Majene.


