Krisis Empati di Era Digital Perspektif Islam

polman,- Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, berinteraksi, dan membangun
relasi sosial. Media sosial yang awalnya hadir sebagai sarana mempererat silaturahmi, kini sering kali justru menjadi ruang lahirnya ujaran kebencian, perundungan daring, serta sikap saling merendahkan. Fenomena ini menandai apa yang dapat disebut sebagai krisis empati di era digital, yakni menurunnya kepekaan rasa terhadap penderitaan, perasaan, dan martabat sesama manusia.

Di tengah bencana alam, konflik sosial, dan hoaks yang terus mengalir di ruang digital, masyarakat kita menghadapi persoalan yang lebih mendasar, krisis empati. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang berbagi kepedulian justru sering berubah menjadi arena saling menghakimi, mempermalukan korban, dan mempertajam luka sosial. Penderitaan manusia kerap direduksi menjadi konten, sementara rasa iba perlahan menghilang. Setiap kali bencana terjadi, linimasa dipenuhi foto dan video korban. Namun, tidak sedikit yang dibagikan tanpa empati, bahkan disertai komentar sinis dan menyalahkan. Dalam konflik sosial, perbedaan pandangan politik, agama, dan identitas dengan mudah dibingkai secara provokatif.

Narasi “kami” dan “mereka” menguat, sementara dialog dan kepedulian melemah. Situasi ini semakin parah dengan maraknya hoaks yang menyebar cepat tanpa verifikasi, memicu kepanikan dan kebencian. Dalam perspektif Islam, empati bukan sekadar sikap sosial, melainkan bagian dari iman dan akhlak.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang tercermin dari kemampuannya mencintai sesama sebagaimana mencintai dirinya sendiri.

Baca Juga:   Menjaga Amanah Ilahi Deforestasi Hutan Lindung sebagai Fasād fi al-Arḍ dalam Hukum Islam

َّ ِلِاخِيه ِ ماا يُحِب ُّ لِنافْسِه َلا يُؤْمِن ُ أاحادُكُم ْ حاتَّى يُحِب ِِ

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Islam juga mengajarkan etika komunikasi, berkata baik atau diam, serta kewajiban tabayyun, tidak tergesa-gesa menyebarkan informasi sebelum memastikan kebenarannya (QS. al-Ḥujurāt [49]: 6).

َ يَاٰ أَيُّهَا الَّذِين َ آمَنُوا إِن ْ جَاءَكُم ْ فَاسِق ٌ بِنَبَإ ٍ فَتَبَيَّنُوا أَن ْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَة ٍ فَتُصْبِحُوا عَلَ ى
مَا فَعَلْتُم ْ نَادِمِين…سورة الحجرات:(٦)

Artinya :

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 6)

Sebelum menyebarkan informasi. Di era digital, prinsip ini menjadi sangat relevan bukan hanya untuk menjaga kebenaran, tetapi juga untuk melindungi perasaan dan martabat manusia. Nilai empati dan kasih sayang sejatinya juga hidup kuat dalam budaya Bugis Mandar. Dalam khazanah budaya Bugis dikenal konsep siri’ na pacce. Siri’ bermakna harga diri dan kehormatan, sementara pacce (atau pesse) adalah empati rasa ikut merasakan penderitaan orang lain. Sebuah pepatah Bugis menyebut, “Siri’ na pacce’ ri alebbireng,” yang menegaskan bahwa kemuliaan
manusia terletak pada kemampuannya berempati. Tanpa pacce, kehormatan kehilangan maknanya.

Baca Juga:   Kebersihan, Kesadaran Kolektif, dan Ujian Iman serta Kebangsaan

Budaya Bugis juga mengenal ungkapan, “Iyaro gau’ temmangingngi siri’, temmangingngi tau,” yang mengingatkan bahwa perbuatan yang melukai empati akan menghilangkan kehormatan dan kemanusiaan. Pesan ini relevan dengan budaya komentar kasar dan saling merendahkan di media sosial hari ini, yang sejatinya bertentangan dengan jati diri budaya Bugis. Sementara itu, dalam budaya Mandar dikenal nilai sipamandaq dan siwaliparri saling
menguatkan dan saling menanggung beban.

Nilai ini mengajarkan bahwa dalam musibah dan kesulitan, yang utama adalah kebersamaan dan kepedulian, bukan saling menyalahkan atau menjadikan penderitaan sebagai tontonan. Pepatah Mandar “malaqbiq anna mallebbireng” mulia dalam sikap dan lembut dalam perilaku menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tampak dari kelembutan hati dan tutur katanya, termasuk di ruang digital. Nilai siri’, pacce, sipamandaq, dan siwaliparri seharusnya menjadi landasan etika bermedia di era digital.

Menyebarkan hoaks, ujaran  kebencian, atau konten yang mempermalukan korbanjelas bertentangan dengan nilai budaya Bugis Mandar sekaligus ajaran Islam. Baik agama maupun budaya lokal sama-sama mengajarkan bahwa menjaga perasaan dan martabat orang lain adalah bentuk kemuliaan diri. Krisis empati di ruang digital pada dasarnya mencerminkan melemahnya kesadaran moral dan spiritual. Banyak orang merasa bebas berkata apa saja karena bersembunyi di balik layar. Padahal, tidak ada ruang yang bebas nilai. Dunia maya dan dunia nyata sama-sama menuntut akhlak.

Baca Juga:   Kesadaran Ekoteologis dan Kesadaran Kemanusiaan

Namun demikian, media digital juga menyimpan potensi besar. Ia dapat menjadi ruang solidaritas, penggalangan bantuan korban bencana, dan penyebaran pesan damai. Teknologi akan menjadi berkah jika digunakan dengan empati dan tanggung jawab. Membangun kembali empati membutuhkan kesadaran bersama literasi digital yang disertai literasi akhlak, serta keteladanan dari tokoh agama, pendidik, dan figur publik. Di tengah bencana, konflik sosial, dan derasnya arus informasi, empati adalah kebutuhan mendesak. Islam dan budaya Bugis Mandar sama-sama menegaskan bahwa kemuliaan manusia terletak pada kasih sayang dan kepedulian. Tantangan kita hari ini adalah menghadirkan nilai-nilai itu di ruang digital agar teknologi tidak menjauhkan kita dari kemanusiaan, tetapi justru memperkuatnya.

Krisis empati di era digital merupakan tantangan nyata bagi umat Islam di tengah modernitas. Islam tidak menolak teknologi, tetapi menekankan pentingnya akhlak dalam menggunakannya. Dengan menjadikan empati sebagai manifestasi iman dan akhlak, umat Islam dapat menghadirkan wajah Islam yang ramah, humanis, dan relevan di ruang digital. Era digital seharusnya tidak menjauhkan manusia dari nilai kemanusiaan, melainkan menjadi sarana memperluas kasih sayang dan kepedulian sosial sebagaimana diajarkan Islam.

Tinggalkan Balasan