Majene, -Worshop tarik pattuduq tommuane di adakan di Musium mandar majene yang dilaksanakan selama dua hari mulai tanggal 23-24 agustus 2025, yang Dibuka oleh Kepala dinas kebudayaan dan pariwisata kab. Majene Drs. H. Ahmad Jamaan Dengan jumlah peserta terdiri dari 4 empat komunitas seni yang ada di Kab. Majene : sanggar keke, sanggar ampat, sanggar tasende, LPAB Kawari majene.
Kegiatan ini terselenggara atas dukungan dari Balai Pemajuan Kebudayaan (BPK WIL. XVIII Sulteng dan Sulbar) melalui dana Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan tahun 2025.
Kemudian delapan sekolah dasar (SD) yang ada di kab.Majene yaitu : SD 57 Tangnga-tangnga, SD 58 Pangale, SD 28 Tamo, SD 60 Lembang, SD 7 Salabose, SD 62 Salabose, SD 35 Panggalo, SD 61 Copala.
Materi pertama Dasar-dasar tari oleh syainuddin S.I.P. Materi kedua : Pattuduq Tommuane/Tuqduq pakkamusu, Dian M tasrif, materi ketiga : latihan gerakan pattuqduq Tommuane, oleh instruktur tari Hendra kusnadi.
Dalam materinya Syainuddin menjelaskan tentang nilai-nilai yang terkandung “Tari pattuqdu memggambarkan keperkasaan dan keberanian pemuda di mandar dalam berperang mempertahankan kerajaan pada zaman dahulu
dan semangat juang masyarakat dalam menghadapi tantangan hidup untuk mencapai kesuksesan”, jelasnya.
Peserta cukup antusias mendengarkan dan menyaksikan setiap penjelasan Narasumber, hingga memancing peserta yang lain untuk bertanya.
Salah satu peserta yang juga sebagai guru SD 60 lembang menitipkan harapan kepada para narasumber agar kegiatan worshop tidak hanya sebatas seremonial saja, tapi lebih dari itu perlu ada dorongan khusus dari dinas terkait untuk menjadikan tari pattuqduq masuk muatan lokal.
” Kami berharap kesenian lokal tariq pattuqduq ini tidak hanya di bahasa atau di pentaskan di waktu-waktu tertentu tapi kalau bisa di masukan kedalam muatan lokal sekolah-sekolah agar anak sekolah lebih dekat dan mengambil nila-nilai kekayaan kesenian lokal, ” Pungkasnya.



