Kolaborasi Perguruan Tinggi Indonesia dan Queensland Australia dorong Ekonomi Sirkular di Sulawesi Barat. 

Mamuju,- Ekonomi Sirkular adalah model ekonomi yang berfokus pada penggunaan kembali, perbaikan, dan daur ulang untuk memperpanjang siklus hidup produk dan sumber daya serta, meminimalkan limbah. Salah satu daerah yang menjadi penghasil sampah pelastik yang cukup banyak yaitu dari Desa Tadui, Kabupaten Mamuju yang berasal dari penggunaan botol pelastik sebagai pelampung budidaya rumput laut.

Fokus grup diskusi (FGD) adalah awal dari kegiatan ini untuk memetakan permasalahan-permasalahan polusi pelastik dari kegiatan budidaya rumput laut di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

FGD yang dilakukan selama dua hari, 3-4 November 2025, menggali terkait permasalahan sampah pelastik pada budidaya rumput laut dengan melibatkan masyarakat Desa Tadui denga stakeholder Kabupaten Mamuju. Permasalahan yang ada didiskusikan untuk mencari solusi yang tepat. Kegiatan ini berlangsung dengan antusiasme warga dan stakeholder, hal ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah dan ekonomi Sirkular yang diinisiasi oleh tim mendapatkan respon positif dari warga dan stakeholder setempat.

Baca Juga:   Disdikpora Kab. Majene Jaling Kerjasama LPMP Sulawesi Barat

Kegiatan ini diinisiasi oleh tim peneliti PAIR (partnership for Australia-Indonesia Research) yang diketuai Profesor Shinta Werorilangi, seorang peneliti mikroplastik dari Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini melibatkan beberapa Universitas Nasional dan internasional yaitu Universitas Hasanuddin, Universitas Sulawesi Barat, institut teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Pattimura, dan University of Queensland Australia.

Lokasi kegiatan ini berlangsung di provinsi Sulawesi Barat, tepatnya di Kabupaten Mamuju dengan mengambil sapling di Desa Tadui’.

Salah satu warga desa ( Ibu masnur ) bertanya ” apa efek dari bahaya botol plastik, kalau misalnya terlalu banyak efek negatifnya. Apa yang bisa menggantikan botol itu untuk kita jadikan sebagai pelampung. Dan jika ada apa dan bagaimana memperolehnya.. ”

Baca Juga:   Kadisdikpora Majene Minta Semua Sekolah Jadi Adiwiyata

Kemudian di jelaskan oleh peneliti mikroplastik Prof Shinta, bahwa botol pelastik yang sudah tidak digunakan lagi akan menjadi sampah yang mencemari perairan. Sampah pelastik jika berada di perairan dalam jangka waktu yang lama akan terpotong potong menjadi ukuran kecil yang dikenal dengan mikroplastik, kemudian akan dikonsumsi oleh ikan dan kemungkinan akan diserap juga rumput laut, dan ketika ikan dan rumput laut di konsumsi oleh manusia, maka akan banyak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan dan ekosistem perairan.

Baca Juga:   Disdikpora Majene Gagas Pembentukan Posko Pendidikan Setiap Desa

Pencegahan inovasi dan kesadaran sosial juga digaungkan dalam diskusi dengan para stakeholder dalam menangani limbah plastik yang sangat merugikan. Para stakeholder Kabupaten Mamuju yang hadir pada kegiatan FGD

diantaranya, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Mamuju, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) mamuju, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Mamuju, Bank sampah, Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle ( TPS-3R), Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah( BAPPERIDA), penyuluh perikanan budidaya Mamuju, Kepala Desa Tadui, serta kepala Dusun Tadui.

Kegiatan ini diharapkan dapat mengambil langkah kongkrit bagi para pemegang kekuasaan untuk menjadikan ekonomi Sirkular sebagai solusi atas permasalahan sampah pelastik di mamuju terutama yang tersebar di wilayah budidaya rumput laut.

Penulis: ArjunEditor: Sy

Tinggalkan Balasan