Litaqmandar.com Majene,– Kabupaten Majene merupakan salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Barat yang memiliki kekayaan alam, sejarah, budaya, serta potensi ekonomi masyarakat yang cukup beragam. Terletak di pesisir barat Pulau Sulawesi, Majene berhadapan langsung dengan Selat Makassar yang memisahkan wilayah tersebut dengan Pulau Kalimantan.
Kabupaten Majene memiliki luas wilayah sekitar 947,84 kilometer persegi. Berdasarkan data kependudukan tahun 2020, jumlah penduduknya tercatat sebanyak 174.407 jiwa, terdiri atas 87.025 penduduk laki-laki dan 87.382 penduduk perempuan. Rabu, 4/11/2026
Secara geografis, Kabupaten Majene berbatasan dengan Kabupaten Mamuju di sebelah utara, Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa di sebelah timur, serta Teluk Mandar dan Selat Makassar di sebelah selatan dan barat.
Wilayah Kabupaten Majene secara administratif terbagi menjadi delapan kecamatan, yakni Banggae, Banggae Timur, Pamboang, Sendana, Tammerodo, Tubo Sendana, Malunda, dan Ulumanda. Setiap kecamatan memiliki karakteristik wilayah serta potensi sumber daya alam dan budaya yang menjadi bagian dari kekayaan daerah.
Selain dikenal dengan kekayaan budaya Mandar, Majene juga memiliki potensi ekonomi dari sektor perkebunan dan peternakan. Salah satu komoditas unggulannya adalah kakao yang menjadi bahan baku utama pembuatan cokelat. Di sejumlah wilayah, masyarakat juga mengembangkan usaha peternakan kambing secara tradisional sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga.
Namun, daya tarik Majene tidak hanya terletak pada sektor ekonomi. Daerah ini juga menyimpan berbagai peninggalan sejarah, tradisi maritim, kuliner khas, hingga destinasi wisata alam yang menarik untuk dikunjungi.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat Kabupaten Majene, terdapat sejumlah fakta menarik yang menggambarkan identitas dan kekayaan Tanah Mandar. Berikut enam fakta menarik Kabupaten Majene yang dirangkum dari berbagai sumber.
1. Kompleks Makam Raja dan Hadat Banggae, Bukti Sejarah Peradaban Mandar
Salah satu peninggalan sejarah penting di Kabupaten Majene adalah Kompleks Makam Raja dan Hadat Banggae. Situs bersejarah ini berada di atas Bukit Ondongan, Kecamatan Banggae, tidak jauh dari kawasan Pantai Cilallang yang menjadi tempat masyarakat nelayan menambatkan perahu.
Keberadaan kompleks pemakaman tersebut menjadi salah satu bukti perjalanan panjang peradaban masyarakat Mandar, khususnya sejarah pemerintahan Kerajaan Banggae.
Kompleks Makam Raja dan Hadat Banggae merupakan tempat pemakaman para raja serta hadat atau pemangku adat Banggae yang diperkirakan berasal dari abad ke-17 hingga abad ke-20.
Di atas lahan seluas sekitar 1,6 hektare, terdapat kurang lebih 471 makam yang memiliki bentuk dan karakteristik arsitektur berbeda. Kompleks ini dikenal sebagai salah satu kawasan pemakaman bersejarah yang memiliki nilai budaya penting di Sulawesi Barat.
Keunikan makam terlihat dari penggunaan batu karang yang dipahat dengan berbagai ornamen, mulai dari motif kaligrafi, geometris, swastika, hingga motif bunga. Sebagian makam memiliki ukuran cukup besar dengan konstruksi batu pahat yang menggunakan sistem pengunci sehingga susunannya dapat bertahan dalam waktu lama.
Menariknya, sebagian besar makam tidak dilengkapi tulisan yang menunjukkan nama maupun masa kehidupan orang yang dimakamkan. Meski demikian, nilai sejarah dan keunikan arsitekturnya menjadikan kawasan ini tetap menarik untuk ditelusuri.
Hingga kini, kompleks pemakaman tersebut masih dikunjungi masyarakat untuk berziarah. Selain itu, mahasiswa, peneliti, dan wisatawan juga datang untuk mengenal lebih dekat sejarah serta warisan budaya masyarakat Mandar.
2. Betteng Adolang, Benteng Pertahanan Peninggalan Perjuangan Melawan Belanda
Majene juga memiliki peninggalan sejarah berupa Betteng Adolang yang berada di wilayah Adolang, sekitar Dusun Gallung, Kecamatan Pamboang. Dalam bahasa masyarakat setempat, kata betteng berarti benteng.
Situs ini merupakan salah satu peninggalan yang menyimpan cerita perjuangan masyarakat Mandar dalam menghadapi penjajahan Belanda.
Secara fisik, benteng tersebut memiliki ketinggian sekitar satu meter dan dibangun dari susunan batu tanpa menggunakan perekat. Meski konstruksinya terbilang sederhana, sebagian susunan batu masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Di sekitar kawasan benteng tumbuh pepohonan akasia dan kayu mangiwang yang memberikan suasana alami. Benteng ini memiliki dua lapis pertahanan yang dibangun dengan memanfaatkan kondisi geografis kawasan.
Lapisan pertama berada di atas tebing sebelah barat daya. Tepat di bawah tebing terdapat jalan setapak yang dahulu menjadi salah satu akses perjalanan dari Pamboang menuju Adolang. Sementara lapisan kedua berada lebih ke bagian dalam kawasan.
Menurut cerita sejarah yang berkembang di tengah masyarakat, Betteng Adolang dahulu dimanfaatkan sebagai tempat pertahanan para pejuang ketika menghadapi pasukan Belanda, termasuk serdadu Marsose.
Para pejuang memanfaatkan posisi tebing dengan menyiapkan batu-batu berukuran besar di sepanjang jalur yang dilalui pasukan penjajah. Apabila pasukan berhasil melewati pertahanan pertama, mereka masih harus menghadapi lapisan pertahanan berikutnya.
Namun, dalam perjalanan sejarahnya, pasukan Belanda akhirnya mampu mengatasi perlawanan tersebut. Seiring berjalannya waktu, fungsi kawasan benteng mengalami perubahan. Saat ini, sebagian area dimanfaatkan masyarakat untuk melindungi tanaman ladang dari gangguan hewan liar, termasuk babi hutan.
Walaupun tidak lagi berfungsi sebagai benteng pertahanan, Betteng Adolang tetap memiliki nilai sejarah yang penting sebagai bagian dari jejak perjuangan masyarakat Mandar.
3. Perahu Sandeq, Identitas Maritim dan Kebanggaan Masyarakat Mandar
Berbicara tentang Kabupaten Majene dan masyarakat Mandar, tidak lengkap rasanya jika tidak mengenal Perahu Sandeq. Perahu tradisional ini merupakan salah satu warisan budaya maritim yang telah dikenal luas, bahkan hingga ke tingkat internasional.
Dalam bahasa Mandar, kata sandeq berarti runcing. Nama tersebut menggambarkan bentuk haluan dan buritan perahu yang meruncing. Perahu Sandeq memiliki badan yang ramping, dilengkapi cadik di kedua sisi serta layar berbentuk segitiga yang menjadi ciri khasnya.
Dengan desain tersebut, Sandeq dikenal sebagai perahu layar tradisional yang mampu melaju dengan memanfaatkan kekuatan angin. Dalam kondisi angin yang mendukung, kecepatannya dapat mencapai sekitar 15 hingga 20 knot.
Bagi masyarakat Mandar, Sandeq bukan sekadar alat transportasi atau sarana mencari ikan. Perahu ini merupakan simbol keterampilan, keberanian, serta pengetahuan masyarakat pesisir dalam membaca arah angin dan menghadapi kondisi laut.
Keistimewaan Sandeq juga terlihat dalam kegiatan olahraga bahari. Salah satu tradisi yang terkenal adalah Sandeq Race, yakni perlombaan perahu layar tradisional yang menjadi ajang pelestarian budaya maritim sekaligus daya tarik wisata Sulawesi Barat.
Keberadaan Sandeq menjadi bukti kuatnya hubungan historis masyarakat Mandar dengan laut. Hingga sekarang, perahu tradisional tersebut tetap menjadi identitas budaya dan kebanggaan masyarakat Sulawesi Barat.
4. Pantai Dato, Pesona Wisata Bahari dengan Panorama Batu Karang
Kabupaten Majene dikenal memiliki garis pantai yang panjang dengan panorama laut yang memikat. Salah satu destinasi wisata bahari yang cukup populer adalah Pantai Dato, yang berada di Lingkungan Pangale, Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur.
Pantai Dato memiliki daya tarik tersendiri melalui perpaduan pasir putih, air laut yang jernih, serta formasi batu karang yang menjulang di sepanjang kawasan pantai.
Keunikan pantai ini memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Wisatawan dapat menikmati panorama laut dari atas tebing karang, bersantai di kawasan pantai, berenang di area yang memungkinkan, hingga mengabadikan momen dengan latar belakang keindahan Selat Makassar.
Pengembangan Pantai Dato sebagai destinasi wisata telah berlangsung sejak akhir 1990-an. Seiring berjalannya waktu, kawasan ini terus mendapatkan perhatian melalui berbagai upaya penataan dan pembangunan fasilitas pendukung pariwisata.
Pada 2018, Pantai Dato juga memperoleh dukungan pembangunan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Pariwisata sebesar Rp1,6 miliar untuk mendukung pengembangan kawasan wisata.
Kini, Pantai Dato menjadi salah satu tujuan rekreasi masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Majene. Keindahan alamnya sekaligus menjadi potensi besar dalam mendorong pengembangan sektor pariwisata daerah.
5. Pusat Kuliner Somba, Menikmati Cita Rasa Tradisional Mandar
Selain menawarkan wisata sejarah dan keindahan alam, Kabupaten Majene juga memiliki kekayaan kuliner tradisional yang patut dicicipi. Salah satu kawasan yang menarik untuk dikunjungi adalah pusat kuliner Somba yang berada di wilayah Kecamatan Sendana.
Dari pusat Kota Majene, perjalanan menuju Somba dapat ditempuh sekitar 45 menit dengan kendaraan. Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan pesisir, hamparan laut, serta kehidupan masyarakat yang masih kental dengan tradisi Mandar.
Di kawasan pusat kuliner Somba, pengunjung dapat menemukan berbagai makanan khas daerah. Salah satu yang cukup dikenal adalah Jepa, makanan tradisional berbahan dasar singkong yang telah menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat Mandar.
Jepa biasanya dinikmati bersama ikan dan berbagai pelengkap lainnya. Selain itu, wisatawan juga dapat mencicipi aneka olahan hasil laut, termasuk ikan tuing yang dikenal sebagai salah satu sajian khas masyarakat pesisir.
Keberadaan pusat kuliner ini menjadi kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal lebih dekat tradisi makanan masyarakat Mandar yang diwariskan secara turun-temurun.
Mengunjungi Somba bukan sekadar menikmati hidangan tradisional, tetapi juga merasakan suasana kehidupan masyarakat pesisir yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Majene.
6. Goa Udzung, Menelusuri Jejak Perjuangan Masyarakat Mandar
Kabupaten Majene juga menyimpan potensi wisata sejarah yang menarik untuk ditelusuri, salah satunya Goa Udzung yang berada di wilayah Desa Palipi Soreang, Kecamatan Banggae.
Goa ini memiliki cerita sejarah yang berkaitan dengan perjuangan masyarakat Mandar pada masa kolonial. Berdasarkan kisah yang berkembang di tengah masyarakat setempat, Goa Udzung dahulu dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan senjata dan perlengkapan perjuangan para pejuang.
Konon, senjata dan perlengkapan tersebut didatangkan melalui jalur laut dari Pulau Jawa. Setelah tiba di wilayah pesisir Mandar, perlengkapan itu disimpan sebelum didistribusikan melalui kawasan Simbang menuju Pamboang dan Majene menggunakan sarana transportasi tradisional seperti bendi atau dokar.
Di dalam goa terdapat sejumlah bagian yang memiliki bentuk unik dan dikaitkan dengan aktivitas masyarakat pada masa lampau. Beberapa formasi batu bahkan menyerupai tempat tidur dan kursi.
Keberadaan Goa Udzung tidak hanya menawarkan pengalaman menjelajahi kawasan alam, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal cerita sejarah dan perjuangan masyarakat Mandar.
Dengan potensi yang dimilikinya, Goa Udzung dapat menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang dikembangkan melalui pelestarian kawasan, penguatan narasi sejarah lokal, serta keterlibatan masyarakat setempat.
Majene, Perpaduan Wisata Alam, Sejarah, dan Budaya Mandar
Enam fakta tersebut memperlihatkan bahwa Kabupaten Majene memiliki kekayaan dan daya tarik yang beragam. Mulai dari Kompleks Makam Raja dan Hadat Banggae yang menyimpan jejak peradaban, Betteng Adolang sebagai peninggalan perjuangan, Perahu Sandeq sebagai identitas maritim, Pantai Dato dengan panorama baharinya, pusat kuliner Somba dengan cita rasa tradisional, hingga Goa Udzung yang menyimpan kisah sejarah masyarakat Mandar.
Beragam potensi tersebut merupakan modal penting bagi pengembangan sektor pariwisata Kabupaten Majene. Keunggulan daerah ini tidak hanya terletak pada keindahan alam, tetapi juga pada kekayaan sejarah, tradisi, kuliner, dan kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.
Pengembangan destinasi wisata secara berkelanjutan, peningkatan fasilitas, promosi yang lebih luas, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga dan memperkenalkan kekayaan tersebut kepada wisatawan.
Bagi siapa pun yang ingin menikmati perjalanan dengan pengalaman berbeda, Kabupaten Majene layak menjadi salah satu tujuan wisata di Sulawesi Barat. Di daerah ini, wisatawan tidak hanya dapat menikmati panorama laut, tetapi juga menelusuri jejak sejarah dan mengenal lebih dekat kebudayaan Mandar yang menjadi identitas masyarakatnya.


